Showing posts with label Inspirator. Show all posts
Showing posts with label Inspirator. Show all posts

Monday, April 9, 2018

Oleh: Madi, S.T.
“Mahasiswa Teknik dan Manajemen Energi Laut"
Departemen Teknik Kelautan ITS

            Hidup di Negeri ini tak semudah membalikkan telapak tangan, terlihat tak ada sedikitpun cahaya kehidupan menerangi sosok anak kecil yang tinggal di sudut sebuah desa. Hidupku seakan-akan ditutupi oleh labirin-labirin yang tingginya mengalahkan Menara “Burj Khalifa” di Dubai. Harapan akan masa depan yang ingin memberikan cahaya kehidupan dari setiap kegelapan yang dirasakan keluargaku hanyalah sebuah harapan belaka, harapan yang jauh dipandang menyapa mentari  karena gelapnya hidup di Negeri ini.
            Sejak kecil, aku dididik keluargaku dalam keadaan keras yang bertambah-tambah. Begitulah kerasnya kehidupan di Negeri ini, sehingga keluargaku harus bekerja keras mengorbankan segala-galanya demi mendapatkan sesuap nasi. Pernah suatu ketika aku dikurung seharian dirumah, tempat rantauan dahulu kala ketika aku kecil. Dikurung selama Bapak menggoes becak seharian mengelilingi Kota Lampung dan selama Ibu mengulurkan tangannya serta melangkahkan jejak kakinya ke pasar tradisional hingga terjual habis rempah-rempahnya. Mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari ketika adzan dikumandangkan, disitulah aku ditinggal karena agar perut ini menahan dari godaan makanan dari luar, menahan perihnya perut yang keroncongan seperti suara kodok.
            Saat ini, keluargaku telah kembali ke tanah lahir di Serang-Banten, tepatnya di Jalan Ciptayasa Ciruas 42182, Kampung Warakas, Desa Kebonratu, Rt/Rw 004/002, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Begitulah panjangnya alamat tanah lahirku, karena memang sangat sulit untuk ditemukan, letaknya yang jauh dari perkotaan itu tak terjangkau oleh google maps. Desaku adalah, desa yang indah akan pemandangan rerumputan di sawah, tak heran jika sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani. Begitulah anak didik di Desaku tak sedikit yang putus sekolah tingkat dasar (SD), hanya untuk bekerja di sawah mencari sesuap nasi untuk dimakan sehari-hari. Ada harapan rasa ingin melanjutkan pendidikan tingkat tinggi, tapi biayalah yang membatasinya, tak ada pilihan lagi selain bekerja sebagai petani secara turun-temurun dari nenek moyang. Begitulah yang selama ini penderitaan aku dan teman-teman di sudut desa yang jauh dari keramaian kota itu.
            Aku dilahirkan dari dua malaikat perjuangan hidupku yaitu, Ibu bernama Suprah dan Bapak bernama Ranim. Kedua malaikat itu diberikan amanah oleh Allah SWT untuk mendidik ketujuh anak-anaknya yang hanyalah sebuah titipan menuju surga-Nya. Dengan keterbatasan ekonomi, bahkan pengetahuan akan ilmu pun sangatlah minim, Ibuku tidak pernah merasakan sekolah dan Bapakku putus sekolah SD karena harus mengembala kerbau.  Tak ada sedikitpun bekal yang luar biasa dimiliki oleh kedua malaikatku itu, hanyalah tekad dan uasaha yang keras untuk menjaga titipan Allah SWT.
            Alhamdulillah, dari segala keterbatasan Bapak dan Ibuku berusaha menjaga amanah Allah SWT. Hingga saat ini ketujuh anak-anaknya masih diberikan nikmat kehidupan dan kesehatan. Saat ini sebagian anak-anaknya ada yang sudah berkeluarga dan bekerja, sedikit membantu dan meringankan beban ekonomi keluarga. Harapan Bapak dan Ibuku adalah, anak-anaknya bisa sukses mengenyam pendidikan yang tinggi, walaupun biaya dan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan tapi kedua malaikatku sangat bertekad kuat dan berusaha keras untuk menyekolahkan anak-anaknya.
            Harapan itu memang tak mudah untuk diraihnya, harus melewati proses yang panjang dan penuh kesabaran. Kurang lebih 15 tahun lamanya Bapak dan Ibuku menanti jawaban Allah akan harapannya itu, tapi belum juga terjawab. Dari anak pertama sampai anak kelima tidak ada yang menggenggam lulusan sarjana, hanya berhenti di SD, SMP dan SMA saja, lagi-lagi biayalah yang membatasinya. Tapi Bapak dan Ibuku tetap bersyukur, tak ada rasa keluh kesah, walaupun pada rawut wajahnya masih ada harapan besar terhadap kesuksesan anak-anaknya.
            Aku adalah anak keenam, anak laki-laki terakhir yang menjadi harapan besar keluarga untuk mengenyam pendidikan sarjana. Aku dididik begitu keras oleh Bapakku, dari dikurung seharian di kamar, hingga pernah dipukul beberapa kali karena aku enggan belajar, bahkan saking nakalnya ketika kecil yang sering bermain dan tidak pernah belajar, Bapakku pernah menyambuk mengunakan sapu lidi dan sabuk hingga badanku menjadi memar dan merah sepertu warna buah jambu biji yang kemerah-merahan.
            Pendidikan yang keras itulah membuatku sadar akan pentingnya berjuang dan belajar untuk menjadi orang yang sukses, karena memang kesuksesan itu diraih sangat keras dan sakit, tidak ada kehidupan itu yang instan selayaknya mie instan, semuanya butuh proses. Selayaknya pisau yang terbentuk dari besi batangan yang tak bermanfaat, setelah beberapa jam dibakar sampai panas dengan suhu tertinggi, kemudian ditempa dipukul sampai berbunyi keras menunjukan kesakitannya, kemudian di sayat-sayat berbunyi begitu perihnya, hingga terbentuklah pisau yang berguna bagi masyarkat, begitulah Bapak dan Ibuku mengajariku arti sebuah kehidupan yang keras.
            Aku pun sedikit demi sedikit belajar membantu kedua bidadariku dari berbagai cara yang halal. Dulu ketika aku duduk di bangku SD di pulau rantau “Lampung”, aku pernah mengumpulkan tugas teman-teman satu kelas untuk aku kerjakan dan teman-temanku membayar hasilnya dengan jajanan sekolah atau dengan uang senilai 300 sampi 500 perak. Padahal aku tak sepintar yang mereka bayangkan, aku hanya berusaha mengerjakan sebisa mungkin untuk menghasilkan uang jajan sekolah, karena dulu kedua malaikatku hanya mengasih uang jajan sekolah sebesar 50 perak sampai 100 perak saja, bahkan sering tidak dikasih uang jajan.
            Tiga tahun lamanya aku sekolah di SD Negeri 3 Kaliawi Bandar Lampung, tak pernah kuraih peringkat tiga besar, bahkan sepuluh besar pun tak pernah kuraihnya. Bermain adalah kesukaanku ketika itu, mulai bermain gambaran, petak umpet, bentengan, kelereng, tamplak, dan bermain sesukanya. Tak  bosan jika Bapakku selalu memberikan cambukkan menggunakan sabuk, lidi atau penggaris.
            Begitu kembali di kampung halaman aku menyadari yang sebenarnya, melihat sawah-sawah yang hijau, kambing, bebek, ayam, kerbau semuanya berkeliaran di kampung ini. Bahkan, anak-anak kecil di kampung halaman bermain sambil bekerja di sawah mengembala ternak dan memotong rumput untuk makan ternak. Begitulah aku sadari, aku pun ikut membantu ekonomi kedua malaikatku. Pergi untuk mengembala kambing di sawah, mengambil rumput, mengembala ayam, itik, bebek, dan kerbau.
Semua kujalani dengan terpaksa karena untuk menambah uang jajan sekolah. Bukan sekadar menjadi pengembala, bahkan aku bersama teman-teman satu kampung mengambil barang-barang bekas mengelilingi satu desa, mengambil aqua bekas, tembaga bekas, besi bekas dan sampah lainnya yang masih layak untuk dijual. Bahkan dulu pernah bersama teman-teman, makan nasi bungkus hasil temuan di sampah rumah salah satu warga, karena saking laparnya dan tidak ada uang seperak pun ketika itu.
Bekerja pun tidak cukup untuk meraih pendidikan tinggi, bahkan tidak mungkin karena pekerjaan yang kulakukan hanya untuk uang jajan saja, karenanya aku pun bekerja sambil belajar dan tak lupa rajin beribadah. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit dari yang tak pernah meraih peringkat sekolah, akhirnya mulai dari kelas empat di SD Negeri Kebonratu aku selalu meraih peringkat kelas, hingga aku mendapatkan beasiswa di MTs Negeri Ciruas dan mengantarkanku ke MAN 2 Kota Serang.
Detik waktu pun bergulir begitu cepat, tak terasa masa-masa sekolah yang kuhabiskan waktu untuk berprestasi dan berkontribusi, baik itu prestasi akademik melalui peringkat sekolah dan olimpiade kimia, maupun prestasi nonakademik seperti pidato, puisi, pramuka dan paskibra. Alhamdulillah, dengan usaha yang keras aku diterima di sebuah Institut perjuangan di Indonesia yaitu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jurusan Teknik Kelautan.
Berawal dari Agustus 2013, aku pun bertekad untuk lepas seorang diri dari keluargaku menuju kerasnya kehidupan di Surabaya. Dengan bantuan biaya transportasi dari guru-guru MAN 2 Kota Serang, menuju tempat perkuliahan di Surabaya. Alhamdulillah, itulah pertama kalinya aku terbang bersama pesawat di atas awan-awan. Tak tahan melihat Ibu menangis dan memelukku sangat erat seperti ada harapan besar pada diriku. Insya Allah ini adalah jawaban Allah akan harapan besar Bapak dan Ibu yang telah lama menunggu selama kurun waktu 15 tahun.
Bidikmisi adalah sebuah anugerah yang Allah berikan kepadaku, yang telah memberikan kunci untuk membuka kegelapan menuju cahaya kehidupan yang sangat keras ini. Bidikmisi bagaikan malaikatku yang ketiga, yang membuatku bertekad kuat untuk berprestasi, berkontribusi, berorganisasi dan berwirausaha. Seakan-akan kehadirannya tak bisa dilupakan dan penuh tanggungjawab untuk menjaganya.
Alhamdulillah selama kurun waktu tiga tahun kuliah di ITS, selama harapanku ditulis dalam selembar kertas mimpi. Selama itu pula, aku mulai sedikit demi sedikit mencoret harapan-harapanku karena ketercapaiannya. Kurang lebih sedikitnya 40 prestasi yang telah kuraih selama menjadi mahasiswa yang sebagian besarnya prestasi menulis, hingga mengantarkanku ke Negeri Jiran, Malaysia dan Singapura. Prestasi saja tidaklah cukup, aku pun aktif berorganisasi, hingga aku pun diamanahkan menjadi Ketua Departemen Inovasi Karya Himpunan Mahasiswa Teknik Kelautan dan sebagai Wakil Ketua Trainer Keilmiahan ITS.
Hidupku tak pernah kenal lelah, hingga waktu kosong pun dimanfaatkan untuk berwirausaha seperti, mengajar, bekerja di Café, menjual minuman dan donat di kampus semata-mata untuk ditabung bekal masa depan. Belajar dari usaha kecil-kecilan, alhamdulillah saat ini aku telah mendirikan sebuah perusahaan berbadan usaha dibidang penerbitan buku yaitu, CV. Sinar Gamedia (www.sinargamedia.org).
Belajar berwirausaha, berorganisasi, dan berprestasi pun tidaklah cukup jika tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Aku pun berusaha selalu siap diminta masyarakat untuk berbagi ilmu, menjadi pembicara diberbagai kegiatan, alhamdulillah sudah puluhan kegiatan aku dipercaya menjadi pembicara dan telah merubah mindset seseorang menjadi lebih baik. Dan alhamdulillah dari perusahaan CV. SInar Gamedia, aku pun mendirikan sebuah Komunitas dibidang kepenulisan yaitu Komunitas Sahabat Redaksi yang telah merubah lebih dari 500 orang menjadi penulis pemula. Dan sedikitnya 60 buku hasil keuntungan perusahaan CV. Sinar Gamedia disedakhkan untuk anak-anak jalanan.
Perjuanganku terus berlanjut menuju masa-masa yang dinanti harapan terbesar Bapak dan Ibuku yaitu, Gelar Sarjana. Alhamdulillah saya pun lulus tepat waktu selama delapan semester (4 tahun). Tepatnya bulan September saya resmi menjadi Alumni Teknik Kelautan ITS. Hal yang menarik lagi, dalam wisuda tersebut saya terpilih sebagai mahasiswa yang mempunyai kisah inspiratif, hingga diterbitkan dalam Majalah ITS Online Edisi Wisuda 116. Aku dan seluruh keluargaku pun berbendong-bondong datang ke Surabaya untuk menghadiri sebuah peristiwa yang pertama kali dialami oleh keluarga bersarku.
Dari segala mimpi-mimpiku yang satu persatu telah kuraih, hingga akupun dinobatkan menjadi juara dua MAWAPRES ITS hingga terpilih sebagai Mahasiswa Bidikmisi Berprestasi ITS. Sampai mendapatkan tiga penghargaan dari Beastudi Etos, Dompet Dhuafa yaitu, Profil Pemimpin Terbaik, Profil Unggul Terbaik dan Top Five Etoser 2013. Alhamdulillah wasyukurillah semua itu karena bantuan dan kekuatan yang telah Allah berikan kepadaku.
Sahabat, aku bukanlah mahasiswa yang luar biasa di mata anda, aku tidaklah lebih baik dari anda, aku hanya berusaha menjadi mahasiswa pembeda, karena tujuan kuliahku adalah belajar, bukan hanya belajar akademik, tapi belajar berprestasi, berwirausaha, berorganisasi dan berkontribusi untuk masyarakat. Yakinlah dan percayalah bahwa anda bisa lebih baik dari kehidupanku.  Aku pun tidak akan  pernah berhenti sampai di sini, aku akan terus berjuang meraih mimpi-mimpiku sampai bisa menerangi masyarakat kecil di pulau – pulau kecil di Indonesia.

More Info:
WA: 087809117417
Instagram: @madi_arranim
Blog: www.madiarrnim.top







Monday, May 16, 2016



“Kecil Bukan Berarti Anda Lemah”

Madi Ar-Ranim
(S1-Teknik Kelautan ITS)
Penerima Manfaat Beastudi Etos dan Bidikmisi
Surabaya
             Malam telah berlalu begitu cepat, menghidupkan nyawa-nyawa yang sempat menghilang bagaikan kapas yang bertaburan di atas langit-langit senja. Santri-santri desa yang berbondong-bondong melangkahkan kaki badannya menuju tempat yang dirahmati Allah. Jantung pun ikut berdetak keras lagi merdu ketika melodi-melodi bedug memberikan suasana nada di subuh hari. Tak bosan-bosannya telinga ini begitu bersahabat mendengar senandung nada-nada dengkuran ayam dan gema burung-burung di langit-langit yang kemerah-merahan. Sedang tubuh kecil ini tak ada henti-hentinya melekat di atas samudra kapuk, bagaikan lekatan laba-laba dalam sarangnya yang tak bisa dilepaskan.    
            Pagi itu, seusai melaksanakan sholat subuh, tak seperti biasanya kajian di asrama segera diselesaikan tepat pukul setengah enam pagi. Seluruh etoser ikhwan mulai dari angkatan 2011, 2012, 2013 dan pendamping asrama pun ikut berbondong-bondong menuju halaman di depan patung Dr.Angka ITS. Hari itu akan menjadi titik awal saksi bisu kekuatan dan keberanianku dalam menghadapi lika-liku peliknya kehidupan menjadi seorang mahasiswa. Sebut saja Tarung Derajat salah satu olah raga bela diri yang dipilih Manajemen Etos Surabaya untuk dijadikan pembinaan wajib di hari sabtu setelah kajian pagi. Sungguh bulu-bulu disebagian tangan dan kakiku berdiri mendadak seakan-akan ada pengaruh gaya magnet yang mencampakkan jati dirinya. Tubuh kecil ini menandakan ketidaksiapan dalam mengikuti pelatihan bela diri, tubuh kecil ini tak mampu bersahabat untuk melakukan gerakan-gerakan yang tak biasa dilakukan sebelumnya.
            Sesaat setelah satu jam pemanasan bela diri, tibalah saatnya mengadu gerakan demi gerakan yang dipimpin oleh pembina Tarung Derajat yaitu, Kang Hartadi. Begitu keras bimbingannya, tetapi mengandung makna dari kata-kata yang dilontarkan dan dari gerakan yang diragakan. Ada satu perkataan yang tak pernah bosan dilontarkan Kang Hartadi ketika aku melakukan kesalahan dalam satu gerakan yaitu, “Jangan tunjukan kelemahanmu karena badanmu yang terlihat kecil”. Satu kalimat yang mungkin biasa bagi anda, tapi bagiku sangat berarti dalam sanubariku. Benar, sungguh tak salah apa yang telah dikatakan Kang Hartadi kepadaku, suatu titik awal derap langkah kakiku agar tidak menjadi manusia yang lemah, tubuh kecil memang bukanlah patokan untuk dijadikan tingkat kelemahan seseorang.  
            Kurang lebih tiga jam lamanya bersama Kang Hartadi melakukan gerakan demi gerakan yang menguras tubuh kecil tanpa dosa ini. Batang-batang tubuh para etoser yang terlihat lemah dipenuhi dengan tetesan air yang mengalir begitu serius mebasahi seluruh tubuh, hingga menembus di luar kain pelindung pada tubuhnya. Menandakan waktu latihan telah selesai dan akan dilanjutkan pekan depan. Satu persatu para etoser telah meninggalkan tempat latihan, ada yang bersama-sama mengendarai sepeda motor, ada yang bersama-sama jalan kaki dan bersepeda ontel. Ketika itu, biasanya aku berjalan kaki atau boncengan di motor kakak senior, tapi saat ini aku pulang bersama kendaraan kebanggaanku. Mungkin kendaraan itu sangatlah biasa diindra tubuh anda, harganya memang tidaklah mahal, bentuknya pun tidaklah bagus, bahkan sangat kecil seperti tubuhku saat ini. Sebut saja kendaraan itu, adalah sepeda ontel dengan nama Sesepuh (Seperjuangan Sepeda Putih). Nama Sesepuh sengaja kuberikan, karena warnanya yang putih dan mengandung nilai perjuangan yang tak mudah untuk mendapatkannya, hingga aku menjaganya sampai saat ini.
            Sore itu sesaat setelah sholat magrib, tak biasanya aku pergi meninggalkan asrama etos dari Masjid Manarul Ilmi ITS. Bersama Sesepuh, aku pergi mengajar untuk mencari uang tambah perkuliahan. Ketika itu, aku akan mengajar siswa anak SMP di Gubeng Kertajaya, namanya Prima. Jaraknya sekitar 7 km dari asrama etos, yang bisa ditempuh dua jam perjalanan pergi-pulang menggunakan sepeda ontel. Begitulah rutinitasku ketika itu selain kuliah, dibalik itu ada sedikit kesibukanku sebagai Staff Riset dan Teknologi Himpunan Mahasiswa Teknik Kelautan, Staff Klub Keilmiahan ITS, Ketua Divisi Pengembangan Lembaga Dakwah Jurusan “Bahrul Ilmi”, Sekretaris Desa Produktif Etos Surabaya, Ketua Asrama Ikhwan Etos Surabaya dan Ketua Klub Keilmiahan Teknik Kelautan ITS, tapi masih ada waktu kosong dalam hari-hariku, dan aku mengisinya dengan mencari uang tambahan sebagai guru private. Setiap hari senin dan kamis malam menggoes sepeda ontel menembus dingginnya udara malam hari di Kota Surabaya, hanya untuk mencari uang tambahan kuliah.
            Dua hari pengalaman menjadi guru private, tiba-tiba rantai sepeda ontel putus dipertengahan jalan yang sedikit agak jauh dari Bundaran ITS, tepat di depan rumah-rumah mewah tanpa penghuni di sepanjang Jalan Kertajaya, terlihat begitu gelap gulita tanpa ada terangnya lampu yang biasanya tak berkedip, hanyalah suara jangkrik yang saling bersuap dengan suara kodok yang menghasilkan melodi nada-nada cinta di telingaku. Tak terlihat banyak kendaraan bermotor yang melalui Jalan Kertajaya ini, mungkin karena adanya isu begal, yang telah meluas seperti samudra lautan. Hanyalah mobil-mobil mewah yang berjalan dengan kecepatan setengah jiwa menembus embun di malam hari. Jiwa ini terasa lemah, tak kuat lagi, tak ada daya dan upaya. Ditengah-tengah gelapnya malam hari, dengan udara dingin yang menusuk hati, tepat di depan rumah mewah tanpa penghuni, tak ada satu pun sepeda motor yang melalui, dan ketika itu aku tak membawa Hp. Tak ada yang aku lakukan, selain doa dan pengharapan kepada Allah SWT.
“Jangan tunjukan kelemahanmu karena badanmu yang terlihat kecil”, tiba-tiba saja aku teringat satu perkataan Kang Hartadi ketika itu, seakan-akan mengingatkanku agar menjadi manusia yang kuat lagi tegar. Dan tak lama setelah itu, datanglah salah seorang laki-laki pengendara motor, ia mengaku baru saja selesai bekerja di Rumah Sakit, heran bukan kepala, ia datang dari arah Bundaran ITS dan tak ada rumah sakit di daerah tersebut. Niat baiknya untuk menolongku menyambungkan rantai sepeda yang sempat terputus. Dengan peralatan service sepeda yang terlihat lengkap hingga dapat menyatukan rantai sepadaku. Laki-laki penolong tersebut, terlihat begitu terburu-buru setelah hendak menyatukan rantai sepedaku. Sambil memberikan kain berwarna hijau bekas service sepedaku, ia mengharapkan agar aku segera pulang karena dikhawatirkan rantainya putus kembali. Sungguh tak pernah menduga, baru pertama kalinya aku ditolong dalam keadaan genting, dari seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dengan membawa peralatan service sepeda yang begitu lengkap. Aku menganggap ia adalah malaikat berwujud manusia yang hendak menolongku. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”, begitulah potongan ayat dalam surat Ar-Rahman, yang menjadikanku terus mensyukuri nikmat Allah SWT.
Setengah perjalanan pulang menuju asrama etos, sedikit sebelum sampai di Bundaran ITS, aku pun tiba-tiba berfikir, “kecil bukan berarti anda lemah, aku harus kuat, aku pasti kuat”, ujarku dalam hati sambil melihat rantai sepedaku yang sudah kuat kembali. Akhirnya aku bertekad kuat untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat mengajar, agar mendapatkan uang tambahan kuliah. Sambil menikmati indahnya suasana pada malam hari di Kota Surabaya, tak terasa bunyi adzan berkumandang begitu merdu, menandakan waktu sholat isya telah tiba. Seperti biasanya, ketika kumandang adzan dideringkan, goesan sepedaku telah sampai tepat di depan Masjid Kertajaya. Tapi saat ini tidak, karena keterlambatan akibat dihambat oleh lepasnya rantai sepedaku dipertengahan jalan.
Aku pun terus menggoes sepeda ontelku, dengan rasa penyesalan tidak melaksanakan sholat isya tepat waktu. Tiba-tiba, tak ada angin dan tak ada hujan, rantainya putus kembali. Sungguh benar perkataan malaikat penolong itu, rantai sepedanya putus kembali. Tak habis pikir, tepat di depannya ada bengkel sepeda motor, aku pun sesegera mungkin minta bantuan kepada pak tukang. Tapi pak tukang itu tidak bisa membantu, karena tidak mempunyai peralatan service sepeda ontel, yang ia punya hanya service sepeda motor. Pak tukang menyarankan agar aku membeli rantai baru di warung dekat daerah itu, dan baiknya juga pak tukang itu meminjamkan sepeda ontelnya kepadaku untuk membeli rantai baru. Aku pun menggoes dengan semangat, Tanya ke tukang becak, ke ibu-ibu jual makanan, ke anak-anak kecil yang sedang  bermain, melewati lorong-lorong kecil di suatu perumahan, Alhamdulillah aku menemui warung yang menjual rantai sepeda. Aku pun sesegera mungkin kembali ke tempat pak tukang. Dan akhirnya, pak tukang membantu untuk memasang rantai baru ke sepedaku, saat ini sepedaku menjadi kuat dan hati pun ikut kuat kembali.
Beberapa menit kemudian, aku pun sampai di tempat mengajar tepat pukul 8 malam, terlambat satu jam, yang seharusnya jam 7 malam sudah mulai mengajar. Aku pun menceritakan kejadian yang sebenarnya ke Ibu Prima. Mendengar kejadian yang aku alami tersebut, akhirnya Ibu Prima memaklumiku, bahkan hendak memberiku sepeda motor untuk pulang-pergi mengajar Prima di Gubeng Kertajaya, agar tidak terlambat. Tapi aku pun menolaknya, karena seketika mengingat perkataan Ibu di rumah, “Jangan terlalu banyak menerima, tapi perbanyaklah memberi”. Ibu Prima memang sangat baik, sebelum aku mengajar Prima selalu memberiku makan, baik itu bubur, nasi uduk, atau apapun. Aku pun merasa tidak enak sendiri, terkadang malu dalam menghadapinya.
Detik-detik tiga halaman yang telah aku goreskan tinta-tinta hitam dalam kertas putih ini, adalah sebuah pengalaman yang menjadikanku sebagai hamba Allah yang kuat, agar menjadi mahasiswa pembeda dari yang lainnya. Sesepuh menjadi saksi bisu hingga saat ini bersamaku dalam memperjuangkan peliknya kehidupan sebagai mahasiswa. Sesepuh hadir berawal dari tawaran untuk menjadi guru private di Gubeng Kertajaya dengan bayaran per hari Rp 25.000,- dengan jarak yang tidak begitu dekat dari kampus ITS, dan tak punya kendaraan, bahkan mengendarai sepeda motor pun aku tak bisa. Pada akhirnya, aku pun meminjam uang sebesar Rp 300.000,- ke kakak senior Etos untuk membeli sepeda bekas di pasar tradisional di daerah Wonokromo Surabaya. Alhamdulillah, selama kurun waktu 3 bulan mengajar, aku pun sudah bisa membayar hutang ke kakak senior etos.  
Dengan modal kekuatan, keinginan, dan keberanian, aku pun siap menghadapi arti sebuah perjalanan menjadi mahasiswa pembeda. Aku dibina di asrama Etos Surabaya, memang untuk menjadi mahasiswa pembeda di kampus ITS. Tak sedikit kegagalan demi kegagalan yang aku alami untuk menjadi mahasiswa pembeda. Hingga saat ini, aku dipercayai untuk memegang tiga penghargaan sekaligus dari Beastudi Etos Nasional, yaitu sebagai, The Best Etoser Profil Unggul, The Best Etoser Profil Pemimpin, dan Top Five Etoser Terbaik Angkatan 2013.
Disadari atau tidak, aku tidaklah lebih baik dari Anda. Aku hanyalah bocah lelaki yang bertubuh kecil, dilahirkan dari keluarga tidak mampu, ayah bekerja sebagai buruh tani yang mana dahulu pernah sebagai tukang becak, ibu bekerja sebagai pengambil sisa-sisa padi bekas dari para petani yang mana dahulu pernah menjual rempah-rempah di pasar tradisional. Aku pun pernah mendapatkan IPS 2.5, aku pun pernah mendapatkan nilai E dalam mata kuliah desain rancang bangun pantai, bahkan aku pun mengalami banyak kegagalan dalam mempublikasikan karya tulis, sebut saja lebih dari 20 karya tulisku di tolak oleh lembaga swasta maupun negeri. Selain itu, aku pun sempat akan diboikoter oleh warga di Jurusan Teknik Kelautan, karena ketidakaktifan dalam mengikuti pengkaderan.
Allah Yang Maha Esa, Allah berkata lain, Allah memegang pundakku, Allah meridhoiku agar aku kuat. Alhamdulillah, aku yang hendak dahulu akan diboikot, saat ini diamanahkan sebagai Ketua Departemen Inovasi Karya Himatekla 15/16, mendirikan sebuah organisasi Klub Keilmiahan di Jurusan Teknik Kelautan ITS, bersama rekan-rekanku dengan nama “COES (Club Ocean Engineering Student)”. Aku pun saat ini dipercayai untuk menjadi Wakil Ketua Trainer Keilmiahan ITS, yang tak sedikit berbagi ilmu karya tulis ilmiah dengan mengisi materi atau sebagai pembicara diberbagai jurusan ITS, bahkan sudah di luar kampus ITS.  Dan aku pun diamanahkan menjadi Asisten Dosen Wawasan Teknologi dan Komunikasi Ilmiah dalam mata kuliah bersama di ITS.  
Lebih kurang 20 karya tulis yang tertolak, tidak membuatku berhenti dalam berjuang, tapi terus mendekatkan diri kepada Allah, hingga Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk memegang  prestasi nasional yaitu, Juara 1 Lomba Essay Entrepreneurship di Makasar, Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah di Jember, Juara 1 Lomba Karya Cipta Maritim dan Juara 2 serta The Best Prototype di ITS, Surabaya. Dan berturut-turut mendapatkan dana hibah PKM sebanyak 3 proposal di tahun kedua dan tahun ketiga. Selain itu, Allah mengijinkanku agar gagasan tulisan dimuat diberbagai koran lokal di Surabaya, bahkan masuk di koran nasional dengan bayaran yang dapat menambah uang jajan kuliah. Hingga tulisanku dijadikan kedalam buku Antologi bersama penulis hebat lainnya, sampai saat ini terkumpul sebanyak 13 buku antologi bersama penulis nusantara. Aku yang tidaklah mahir dalam berbahasa inggris di Asrama, hanya dengan modal tekad yang kuat dan menyegerakan diri untuk membuat pasport, Alhamdulillah Allah mengijinkanku untuk menginjakkan kaki ini ke Negeri Jiran Malaysia, Singapore, bahkan pernah mendapatkan penghargaan Gold Medal di Korea Selatan dan Best Innovation Nomine dalam perlombaan Paper International.
Berawal dari mencari uang tambahan kuliah, aku pun terus bertekad untuk mengisi waktu kekosongan kuliah dan organisasi dengan menjual apa saja yang bisa aku jual, yang terpenting halal dan diridhoi Allah dan orang tua. Aku pernah menjadi reseller boneka wisuda secara online, menjaga café, menjual gurin tea dan donat keliling kampus ITS, dan pernah menjadi reseller buku online, hingga aku pernah bekerja di perusahaan penerbitan buku indie sebagai admin facebook dalam mengadakan event menulis buku. Selama kurang lebih satu tahun, aku bekerja di Penerbit buku swasta, alhamdulillah saat ini aku telah mendirikan sebuah perusahaan Penerbit buku dengan nama Penerbit Sinar Gamedia. Dengan modal Rp 200.000,- hasil uang pinjaman dari penerbit swasta tempatku bekerja dahulu. Alhamdulillah saat ini, Penerbit Sinar Gamedia telah berbadan perusahaan CV (Comanditaire Vennootschap). Aku pun merekrut salah satu teman dari satu organisasi keilmiahan di ITS, adek junior di jurusan, dan adek junior di Etos untuk bersama-sama menjadi owner CV. Sinar Gamedia. Alhamdulillah selama kurang lebih perjalanan 8 bulan mendirikan Penerbit Sinar Gamedia, saat ini telah terkumpul kurang lebih 500 penulis, 1000 eksamplar buku yang tercetak, 25 judul buku, dan mempunyai komunitas dibidang kepenulisan, serta program buku berbagi untuk anak-anak jalanan dan panti asuhan, serta membantu berbagai kegiatan kampus sebagai media partner.
“Tidak ada kekuatan yang Anda miliki, selain kekuatan dari Allah SWT”
(Madi Ar-Ranim, Anak Tukang Becak dan Buruh Tani, CEO. CV Sinar Gamedia)

Madi’s quotes


"Berkaryalah Selama Anda Masih Diberikan Nikmatnya Hidup Dan Menulislah Selama Anda Masih Diberikan Indahnya Kehidupan"— Madi Ar-Ranim

Visitors

Visitor Country

Flag Counter

Popular Posts

Visitor Country Map

Flag Counter