“Kecil Bukan Berarti Anda Lemah”
Madi Ar-Ranim
(S1-Teknik Kelautan ITS)
Penerima Manfaat Beastudi Etos dan Bidikmisi
Malam telah berlalu begitu cepat, menghidupkan
nyawa-nyawa yang sempat menghilang bagaikan kapas yang bertaburan di atas langit-langit
senja. Santri-santri desa yang berbondong-bondong melangkahkan kaki badannya
menuju tempat yang dirahmati Allah. Jantung pun ikut berdetak keras lagi merdu
ketika melodi-melodi bedug memberikan suasana nada di subuh hari. Tak
bosan-bosannya telinga ini begitu bersahabat mendengar senandung nada-nada
dengkuran ayam dan gema burung-burung di langit-langit yang kemerah-merahan. Sedang
tubuh kecil ini tak ada henti-hentinya melekat di atas samudra kapuk, bagaikan lekatan
laba-laba dalam sarangnya yang tak bisa dilepaskan.
Pagi itu, seusai melaksanakan sholat
subuh, tak seperti biasanya kajian di asrama segera diselesaikan tepat pukul
setengah enam pagi. Seluruh etoser ikhwan mulai dari angkatan 2011, 2012, 2013
dan pendamping asrama pun ikut berbondong-bondong menuju halaman di depan
patung Dr.Angka ITS. Hari itu akan menjadi titik awal saksi bisu kekuatan dan
keberanianku dalam menghadapi lika-liku peliknya kehidupan menjadi seorang
mahasiswa. Sebut saja Tarung Derajat salah satu olah raga bela diri yang
dipilih Manajemen Etos Surabaya untuk dijadikan pembinaan wajib di hari sabtu
setelah kajian pagi. Sungguh bulu-bulu disebagian tangan dan kakiku berdiri
mendadak seakan-akan ada pengaruh gaya magnet yang mencampakkan jati dirinya.
Tubuh kecil ini menandakan ketidaksiapan dalam mengikuti pelatihan bela diri, tubuh kecil ini tak mampu
bersahabat untuk melakukan gerakan-gerakan yang tak biasa dilakukan
sebelumnya.
Sesaat setelah satu jam pemanasan
bela diri, tibalah saatnya
mengadu gerakan demi gerakan yang dipimpin oleh pembina Tarung Derajat yaitu,
Kang Hartadi. Begitu keras bimbingannya, tetapi mengandung makna dari kata-kata
yang dilontarkan dan dari gerakan yang diragakan. Ada satu perkataan yang tak
pernah bosan dilontarkan Kang Hartadi ketika aku melakukan kesalahan dalam satu
gerakan yaitu, “Jangan tunjukan kelemahanmu karena badanmu yang terlihat kecil”.
Satu kalimat yang mungkin biasa bagi anda, tapi bagiku sangat berarti dalam
sanubariku. Benar, sungguh tak salah apa yang telah
dikatakan Kang Hartadi kepadaku, suatu titik awal derap
langkah kakiku agar tidak menjadi manusia yang lemah, tubuh kecil memang
bukanlah patokan untuk dijadikan tingkat kelemahan seseorang.
Kurang lebih tiga jam lamanya
bersama Kang Hartadi melakukan gerakan demi gerakan yang menguras tubuh kecil
tanpa dosa ini. Batang-batang tubuh para etoser yang terlihat lemah dipenuhi
dengan tetesan air yang mengalir begitu serius mebasahi seluruh tubuh, hingga
menembus di luar kain pelindung pada tubuhnya. Menandakan waktu latihan telah
selesai dan akan dilanjutkan pekan depan. Satu persatu para etoser telah meninggalkan
tempat latihan, ada yang bersama-sama mengendarai sepeda motor, ada yang
bersama-sama jalan kaki dan bersepeda ontel. Ketika itu, biasanya aku berjalan
kaki atau boncengan di motor kakak senior, tapi saat ini aku pulang bersama kendaraan
kebanggaanku. Mungkin kendaraan itu sangatlah biasa diindra tubuh anda,
harganya memang tidaklah mahal, bentuknya pun tidaklah bagus, bahkan sangat kecil
seperti tubuhku saat ini. Sebut saja kendaraan itu, adalah sepeda ontel dengan nama
Sesepuh (Seperjuangan Sepeda Putih). Nama Sesepuh sengaja kuberikan, karena
warnanya yang putih dan mengandung nilai perjuangan yang tak mudah untuk
mendapatkannya, hingga aku menjaganya sampai saat ini.
Sore itu sesaat setelah sholat
magrib, tak biasanya aku pergi meninggalkan asrama etos dari Masjid Manarul
Ilmi ITS. Bersama Sesepuh, aku pergi mengajar untuk mencari uang tambah perkuliahan. Ketika itu, aku
akan mengajar siswa anak SMP di Gubeng Kertajaya,
namanya Prima. Jaraknya sekitar 7 km dari asrama etos, yang bisa ditempuh
dua jam perjalanan pergi-pulang menggunakan sepeda ontel. Begitulah rutinitasku
ketika itu selain kuliah, dibalik itu ada sedikit kesibukanku sebagai Staff
Riset dan Teknologi Himpunan Mahasiswa Teknik Kelautan, Staff Klub Keilmiahan
ITS, Ketua Divisi Pengembangan Lembaga Dakwah Jurusan “Bahrul Ilmi”, Sekretaris
Desa Produktif Etos Surabaya, Ketua Asrama Ikhwan Etos Surabaya
dan Ketua Klub Keilmiahan Teknik
Kelautan ITS, tapi masih ada waktu kosong dalam hari-hariku, dan aku mengisinya
dengan mencari uang tambahan sebagai guru private. Setiap hari senin dan kamis
malam menggoes sepeda ontel menembus dingginnya udara malam hari di Kota Surabaya,
hanya untuk mencari uang tambahan kuliah.
Dua hari pengalaman menjadi guru
private, tiba-tiba rantai sepeda ontel putus dipertengahan jalan yang sedikit
agak jauh dari Bundaran ITS, tepat di depan rumah-rumah mewah tanpa penghuni di
sepanjang Jalan Kertajaya, terlihat begitu gelap gulita tanpa ada terangnya lampu
yang biasanya tak berkedip, hanyalah suara jangkrik yang saling bersuap dengan
suara kodok yang menghasilkan melodi nada-nada cinta di telingaku. Tak terlihat banyak
kendaraan bermotor yang melalui Jalan Kertajaya ini, mungkin karena adanya isu begal, yang
telah meluas seperti samudra lautan. Hanyalah mobil-mobil mewah yang berjalan
dengan kecepatan setengah jiwa menembus embun di malam hari. Jiwa ini terasa
lemah, tak kuat lagi, tak ada daya dan upaya. Ditengah-tengah gelapnya malam
hari, dengan udara dingin yang menusuk hati, tepat di depan rumah mewah tanpa penghuni, tak ada satu
pun sepeda motor yang melalui, dan ketika itu aku tak membawa Hp. Tak ada yang aku
lakukan, selain doa dan pengharapan kepada Allah SWT.
“Jangan
tunjukan kelemahanmu karena badanmu yang terlihat kecil”, tiba-tiba saja aku teringat
satu perkataan Kang Hartadi ketika itu, seakan-akan mengingatkanku agar menjadi
manusia yang kuat lagi tegar. Dan tak lama setelah itu, datanglah salah seorang
laki-laki pengendara motor, ia mengaku baru saja selesai bekerja di Rumah
Sakit, heran bukan kepala, ia datang dari arah Bundaran ITS dan tak ada rumah
sakit di daerah tersebut. Niat baiknya untuk menolongku menyambungkan rantai
sepeda yang sempat terputus. Dengan peralatan service sepeda yang terlihat
lengkap hingga dapat menyatukan rantai sepadaku. Laki-laki penolong tersebut,
terlihat begitu terburu-buru setelah hendak menyatukan rantai sepedaku. Sambil
memberikan kain berwarna hijau bekas service sepedaku, ia mengharapkan agar aku
segera pulang karena dikhawatirkan rantainya putus kembali. Sungguh tak pernah
menduga, baru pertama kalinya aku ditolong dalam keadaan genting, dari seorang
laki-laki yang tiba-tiba datang dengan membawa peralatan service sepeda yang
begitu lengkap. Aku menganggap ia adalah malaikat berwujud manusia yang hendak
menolongku. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”,
begitulah potongan ayat dalam surat Ar-Rahman,
yang menjadikanku terus mensyukuri nikmat Allah SWT.
Setengah
perjalanan pulang menuju asrama etos, sedikit sebelum sampai di Bundaran ITS,
aku pun tiba-tiba berfikir, “kecil bukan berarti anda lemah, aku harus kuat,
aku pasti kuat”, ujarku dalam hati sambil melihat rantai sepedaku yang sudah
kuat kembali. Akhirnya aku bertekad kuat untuk kembali melanjutkan perjalanan
menuju tempat mengajar, agar mendapatkan uang tambahan kuliah. Sambil menikmati
indahnya suasana pada malam hari di Kota Surabaya, tak terasa bunyi adzan
berkumandang begitu merdu, menandakan waktu sholat isya telah tiba. Seperti
biasanya, ketika kumandang adzan dideringkan, goesan sepedaku telah sampai
tepat di depan Masjid Kertajaya. Tapi saat ini tidak, karena keterlambatan
akibat dihambat oleh lepasnya rantai sepedaku dipertengahan jalan.
Aku
pun terus menggoes sepeda ontelku, dengan rasa penyesalan tidak melaksanakan
sholat isya tepat waktu. Tiba-tiba, tak ada angin dan tak ada hujan, rantainya
putus kembali. Sungguh benar perkataan malaikat penolong itu, rantai sepedanya
putus kembali. Tak habis pikir, tepat di depannya ada bengkel sepeda motor, aku
pun sesegera mungkin minta bantuan kepada pak tukang. Tapi pak tukang itu tidak
bisa membantu, karena tidak mempunyai peralatan service sepeda ontel, yang ia punya hanya
service sepeda motor. Pak tukang menyarankan agar aku membeli rantai baru di
warung dekat daerah itu, dan baiknya juga pak tukang itu meminjamkan sepeda
ontelnya kepadaku untuk membeli rantai baru. Aku pun menggoes dengan semangat,
Tanya ke tukang becak, ke ibu-ibu jual makanan, ke anak-anak kecil yang
sedang bermain, melewati lorong-lorong
kecil di suatu perumahan, Alhamdulillah aku menemui warung yang menjual rantai
sepeda. Aku pun sesegera mungkin kembali ke tempat pak tukang. Dan akhirnya,
pak tukang membantu untuk memasang rantai baru ke sepedaku, saat ini sepedaku
menjadi kuat dan hati pun ikut kuat kembali.
Beberapa
menit kemudian, aku pun sampai di tempat mengajar tepat pukul 8 malam,
terlambat satu jam, yang seharusnya jam 7 malam sudah mulai mengajar. Aku pun
menceritakan kejadian yang sebenarnya ke Ibu Prima. Mendengar kejadian yang aku
alami tersebut, akhirnya Ibu Prima memaklumiku, bahkan hendak memberiku sepeda motor untuk
pulang-pergi mengajar Prima di Gubeng Kertajaya,
agar tidak terlambat. Tapi aku pun
menolaknya, karena seketika mengingat perkataan Ibu di rumah, “Jangan terlalu
banyak menerima, tapi perbanyaklah memberi”. Ibu Prima memang sangat baik,
sebelum aku mengajar Prima selalu memberiku makan, baik itu bubur, nasi uduk,
atau apapun. Aku pun merasa tidak enak sendiri, terkadang malu dalam
menghadapinya.
Detik-detik
tiga halaman yang telah aku goreskan tinta-tinta hitam dalam kertas putih ini,
adalah sebuah pengalaman yang menjadikanku sebagai hamba Allah yang kuat, agar
menjadi mahasiswa pembeda dari yang lainnya. Sesepuh menjadi saksi bisu hingga
saat ini bersamaku dalam memperjuangkan peliknya kehidupan sebagai mahasiswa. Sesepuh
hadir berawal dari tawaran untuk menjadi guru private di Gubeng Kertajaya
dengan bayaran per hari Rp 25.000,- dengan jarak yang tidak begitu dekat dari
kampus ITS, dan tak punya kendaraan, bahkan mengendarai sepeda motor pun aku
tak bisa. Pada akhirnya, aku pun meminjam uang sebesar Rp 300.000,- ke kakak
senior Etos untuk membeli sepeda bekas di pasar tradisional di daerah Wonokromo
Surabaya. Alhamdulillah, selama kurun waktu 3 bulan mengajar, aku pun sudah
bisa membayar hutang ke kakak senior etos.
Dengan
modal kekuatan, keinginan, dan keberanian, aku pun siap menghadapi arti sebuah
perjalanan menjadi mahasiswa pembeda. Aku dibina di asrama Etos Surabaya,
memang untuk menjadi mahasiswa pembeda di kampus ITS. Tak sedikit kegagalan
demi kegagalan yang aku alami untuk menjadi mahasiswa pembeda. Hingga saat ini,
aku dipercayai untuk memegang tiga penghargaan sekaligus dari Beastudi Etos
Nasional, yaitu sebagai, The Best Etoser Profil Unggul, The Best Etoser Profil Pemimpin, dan Top
Five Etoser Terbaik Angkatan 2013.
Disadari
atau tidak, aku tidaklah lebih baik dari Anda. Aku hanyalah bocah lelaki yang
bertubuh kecil, dilahirkan dari keluarga tidak mampu, ayah bekerja sebagai
buruh tani yang mana dahulu pernah sebagai tukang becak, ibu bekerja sebagai
pengambil sisa-sisa padi bekas dari para petani yang mana dahulu pernah menjual
rempah-rempah di pasar tradisional. Aku pun pernah mendapatkan IPS 2.5, aku pun
pernah mendapatkan nilai E dalam mata kuliah desain rancang bangun pantai,
bahkan aku pun mengalami banyak kegagalan dalam mempublikasikan karya tulis,
sebut saja lebih dari 20 karya tulisku di tolak oleh lembaga swasta maupun
negeri. Selain itu, aku pun sempat akan diboikoter oleh warga di Jurusan Teknik
Kelautan, karena ketidakaktifan dalam mengikuti pengkaderan.
Allah
Yang Maha Esa, Allah berkata lain, Allah memegang pundakku, Allah meridhoiku
agar aku kuat. Alhamdulillah, aku yang hendak dahulu akan diboikot, saat ini
diamanahkan sebagai Ketua Departemen Inovasi Karya Himatekla 15/16, mendirikan
sebuah organisasi Klub Keilmiahan di Jurusan Teknik Kelautan ITS, bersama
rekan-rekanku dengan nama “COES (Club
Ocean Engineering Student)”. Aku pun saat ini dipercayai untuk menjadi
Wakil Ketua Trainer Keilmiahan ITS, yang tak sedikit berbagi ilmu karya tulis
ilmiah dengan mengisi materi atau sebagai pembicara diberbagai jurusan ITS,
bahkan sudah di luar kampus ITS. Dan aku
pun diamanahkan menjadi Asisten Dosen Wawasan Teknologi dan Komunikasi Ilmiah
dalam mata kuliah bersama di ITS.
Lebih
kurang 20 karya tulis yang tertolak, tidak membuatku berhenti dalam berjuang,
tapi terus mendekatkan diri kepada Allah, hingga Allah memberikan kesempatan
kepadaku untuk memegang prestasi
nasional yaitu, Juara 1 Lomba Essay Entrepreneurship di Makasar, Juara 1 Lomba
Karya Tulis Ilmiah di Jember, Juara 1 Lomba Karya Cipta Maritim dan Juara 2
serta The Best Prototype di ITS, Surabaya. Dan berturut-turut mendapatkan dana
hibah PKM sebanyak 3 proposal di tahun kedua dan tahun ketiga. Selain itu, Allah
mengijinkanku agar gagasan tulisan dimuat diberbagai koran lokal di Surabaya, bahkan masuk di koran nasional dengan bayaran yang dapat menambah uang jajan
kuliah. Hingga tulisanku dijadikan kedalam buku Antologi bersama penulis hebat
lainnya, sampai saat ini terkumpul sebanyak 13 buku antologi bersama penulis
nusantara. Aku yang tidaklah mahir dalam berbahasa inggris di Asrama, hanya
dengan modal tekad yang kuat dan menyegerakan diri untuk
membuat pasport, Alhamdulillah Allah
mengijinkanku untuk menginjakkan kaki ini ke Negeri Jiran Malaysia, Singapore,
bahkan pernah mendapatkan penghargaan Gold Medal di Korea Selatan dan Best Innovation
Nomine dalam perlombaan Paper International.
Berawal
dari mencari uang tambahan kuliah, aku pun terus bertekad untuk mengisi waktu
kekosongan kuliah dan organisasi dengan menjual apa saja yang bisa aku jual,
yang terpenting halal dan diridhoi Allah dan orang
tua. Aku pernah menjadi reseller
boneka wisuda secara online, menjaga café, menjual gurin tea dan donat keliling
kampus ITS, dan pernah menjadi reseller buku online, hingga aku pernah
bekerja di perusahaan penerbitan buku indie sebagai admin facebook
dalam mengadakan event menulis buku. Selama kurang lebih satu tahun, aku
bekerja di Penerbit buku swasta, alhamdulillah saat ini aku telah mendirikan sebuah
perusahaan Penerbit buku dengan nama Penerbit Sinar Gamedia. Dengan modal Rp
200.000,- hasil uang pinjaman dari penerbit swasta tempatku bekerja dahulu.
Alhamdulillah saat ini, Penerbit Sinar Gamedia telah berbadan perusahaan CV (Comanditaire Vennootschap). Aku pun
merekrut salah satu teman dari satu organisasi keilmiahan di ITS, adek junior di
jurusan, dan adek junior di Etos untuk bersama-sama menjadi owner CV. Sinar
Gamedia. Alhamdulillah selama kurang lebih perjalanan 8 bulan mendirikan
Penerbit Sinar Gamedia, saat ini telah
terkumpul kurang lebih 500 penulis, 1000 eksamplar buku yang tercetak, 25 judul
buku, dan mempunyai komunitas dibidang kepenulisan, serta program buku berbagi
untuk anak-anak jalanan dan panti asuhan, serta membantu berbagai kegiatan
kampus sebagai media partner.
“Tidak
ada kekuatan yang Anda miliki, selain kekuatan dari Allah SWT”
(Madi
Ar-Ranim, Anak Tukang Becak dan Buruh Tani, CEO. CV Sinar Gamedia)

0 komentar:
Post a Comment