Oleh: Madi, S.T.
“Mahasiswa
Teknik dan Manajemen Energi Laut"
Departemen Teknik Kelautan ITS
Departemen Teknik Kelautan ITS
Hidup
di Negeri ini tak semudah membalikkan telapak tangan, terlihat tak ada
sedikitpun cahaya kehidupan menerangi sosok anak kecil yang tinggal di sudut
sebuah desa. Hidupku seakan-akan ditutupi oleh labirin-labirin yang tingginya
mengalahkan Menara “Burj Khalifa” di
Dubai. Harapan akan masa depan yang ingin memberikan cahaya kehidupan dari
setiap kegelapan yang dirasakan keluargaku hanyalah sebuah harapan belaka, harapan
yang jauh dipandang menyapa mentari
karena gelapnya hidup di Negeri ini.
Sejak
kecil, aku dididik keluargaku dalam keadaan keras yang bertambah-tambah.
Begitulah kerasnya kehidupan di Negeri ini, sehingga keluargaku harus bekerja
keras mengorbankan segala-galanya demi mendapatkan sesuap nasi. Pernah suatu
ketika aku dikurung seharian dirumah, tempat rantauan dahulu kala ketika aku
kecil. Dikurung selama Bapak menggoes becak seharian mengelilingi Kota Lampung
dan selama Ibu mengulurkan tangannya serta melangkahkan jejak kakinya ke pasar
tradisional hingga terjual habis rempah-rempahnya. Mulai dari terbit fajar hingga
terbenamnya matahari ketika adzan dikumandangkan, disitulah aku ditinggal
karena agar perut ini menahan dari godaan makanan dari luar, menahan perihnya
perut yang keroncongan seperti suara kodok.
Saat
ini, keluargaku telah kembali ke tanah lahir di Serang-Banten, tepatnya di
Jalan Ciptayasa Ciruas 42182, Kampung Warakas, Desa Kebonratu, Rt/Rw 004/002,
Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, Propinsi Banten. Begitulah panjangnya
alamat tanah lahirku, karena memang sangat sulit untuk ditemukan, letaknya yang
jauh dari perkotaan itu tak terjangkau oleh google
maps. Desaku adalah, desa yang indah akan pemandangan rerumputan di sawah,
tak heran jika sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani. Begitulah
anak didik di Desaku tak sedikit yang putus sekolah tingkat dasar (SD), hanya
untuk bekerja di sawah mencari sesuap nasi untuk dimakan sehari-hari. Ada
harapan rasa ingin melanjutkan pendidikan tingkat tinggi, tapi biayalah yang
membatasinya, tak ada pilihan lagi selain bekerja sebagai petani secara
turun-temurun dari nenek moyang. Begitulah yang selama ini penderitaan aku dan
teman-teman di sudut desa yang jauh dari keramaian kota itu.
Aku
dilahirkan dari dua malaikat
perjuangan hidupku yaitu, Ibu bernama Suprah dan Bapak bernama Ranim. Kedua malaikat itu diberikan amanah oleh
Allah SWT untuk mendidik ketujuh anak-anaknya yang hanyalah sebuah titipan
menuju surga-Nya. Dengan keterbatasan ekonomi, bahkan pengetahuan akan ilmu pun
sangatlah minim, Ibuku tidak pernah merasakan sekolah dan Bapakku putus sekolah
SD karena harus mengembala kerbau. Tak
ada sedikitpun bekal yang luar biasa dimiliki oleh kedua malaikatku itu, hanyalah tekad dan uasaha
yang keras untuk menjaga titipan Allah SWT.
Alhamdulillah,
dari segala keterbatasan Bapak dan Ibuku berusaha menjaga amanah Allah SWT.
Hingga saat ini ketujuh anak-anaknya masih diberikan nikmat kehidupan dan
kesehatan. Saat ini sebagian anak-anaknya ada yang sudah berkeluarga dan
bekerja, sedikit membantu dan meringankan beban ekonomi keluarga. Harapan Bapak
dan Ibuku adalah, anak-anaknya bisa sukses mengenyam pendidikan yang tinggi,
walaupun biaya dan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan tapi kedua malaikatku
sangat bertekad kuat dan berusaha keras untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Harapan
itu memang tak mudah untuk diraihnya, harus melewati proses yang panjang dan
penuh kesabaran. Kurang lebih 15 tahun lamanya Bapak dan Ibuku menanti jawaban
Allah akan harapannya itu, tapi belum juga terjawab. Dari anak pertama sampai
anak kelima tidak ada yang menggenggam lulusan sarjana, hanya berhenti di SD,
SMP dan SMA saja, lagi-lagi biayalah yang membatasinya. Tapi Bapak dan Ibuku
tetap bersyukur, tak ada rasa keluh kesah, walaupun pada rawut wajahnya masih
ada harapan besar terhadap kesuksesan anak-anaknya.
Aku
adalah anak keenam, anak laki-laki terakhir yang menjadi harapan besar keluarga
untuk mengenyam pendidikan sarjana. Aku dididik begitu keras oleh Bapakku, dari
dikurung seharian di kamar, hingga pernah dipukul beberapa kali karena aku
enggan belajar, bahkan saking nakalnya ketika kecil yang sering bermain dan tidak
pernah belajar, Bapakku pernah menyambuk mengunakan sapu lidi dan sabuk hingga badanku
menjadi memar dan merah sepertu warna buah jambu biji yang kemerah-merahan.
Pendidikan
yang keras itulah membuatku sadar akan pentingnya berjuang dan belajar untuk
menjadi orang yang sukses, karena memang kesuksesan itu diraih sangat keras dan
sakit, tidak ada kehidupan itu yang instan selayaknya mie instan, semuanya
butuh proses. Selayaknya pisau yang terbentuk dari besi batangan yang tak
bermanfaat, setelah beberapa jam dibakar sampai panas dengan suhu tertinggi,
kemudian ditempa dipukul sampai berbunyi keras menunjukan kesakitannya,
kemudian di sayat-sayat berbunyi begitu perihnya, hingga terbentuklah pisau
yang berguna bagi masyarkat, begitulah Bapak dan Ibuku mengajariku arti sebuah
kehidupan yang keras.
Aku
pun sedikit demi sedikit belajar membantu kedua bidadariku dari berbagai cara
yang halal. Dulu ketika aku duduk di bangku SD di pulau rantau “Lampung”, aku
pernah mengumpulkan tugas teman-teman satu kelas untuk aku kerjakan dan
teman-temanku membayar hasilnya dengan jajanan sekolah atau dengan uang senilai
300 sampi 500 perak. Padahal aku tak sepintar yang mereka bayangkan, aku hanya
berusaha mengerjakan sebisa mungkin untuk menghasilkan uang jajan sekolah,
karena dulu kedua malaikatku hanya mengasih uang jajan sekolah sebesar 50 perak
sampai 100 perak saja, bahkan sering tidak dikasih uang jajan.
Tiga
tahun lamanya aku sekolah di SD Negeri 3 Kaliawi Bandar Lampung, tak pernah
kuraih peringkat tiga besar, bahkan sepuluh besar pun tak pernah kuraihnya.
Bermain adalah kesukaanku ketika itu, mulai bermain gambaran, petak umpet,
bentengan, kelereng, tamplak, dan bermain sesukanya. Tak bosan jika Bapakku selalu memberikan cambukkan
menggunakan sabuk, lidi atau penggaris.
Begitu
kembali di kampung halaman aku menyadari yang sebenarnya, melihat sawah-sawah
yang hijau, kambing, bebek, ayam, kerbau semuanya berkeliaran di kampung ini.
Bahkan, anak-anak kecil di kampung halaman bermain sambil bekerja di sawah
mengembala ternak dan memotong rumput untuk makan ternak. Begitulah aku sadari,
aku pun ikut membantu ekonomi kedua malaikatku. Pergi untuk mengembala kambing
di sawah, mengambil rumput, mengembala ayam, itik, bebek, dan kerbau.
Semua kujalani dengan
terpaksa karena untuk menambah uang jajan sekolah. Bukan sekadar menjadi
pengembala, bahkan aku bersama teman-teman satu kampung mengambil barang-barang
bekas mengelilingi satu desa, mengambil aqua bekas, tembaga bekas, besi bekas
dan sampah lainnya yang masih layak untuk dijual. Bahkan dulu pernah bersama
teman-teman, makan nasi bungkus hasil temuan di sampah rumah salah satu warga,
karena saking laparnya dan tidak ada uang seperak pun ketika itu.
Bekerja pun tidak cukup
untuk meraih pendidikan tinggi, bahkan tidak mungkin karena pekerjaan yang
kulakukan hanya untuk uang jajan saja, karenanya aku pun bekerja sambil belajar
dan tak lupa rajin beribadah. Alhamdulillah, sedikit demi sedikit dari yang tak
pernah meraih peringkat sekolah, akhirnya mulai dari kelas empat di SD Negeri
Kebonratu aku selalu meraih peringkat kelas, hingga aku mendapatkan beasiswa di
MTs Negeri Ciruas dan mengantarkanku ke MAN 2 Kota Serang.
Detik waktu pun bergulir
begitu cepat, tak terasa masa-masa sekolah yang kuhabiskan waktu untuk
berprestasi dan berkontribusi, baik itu prestasi akademik melalui peringkat
sekolah dan olimpiade kimia, maupun prestasi nonakademik seperti pidato, puisi,
pramuka dan paskibra. Alhamdulillah, dengan usaha yang keras aku diterima di
sebuah Institut perjuangan di Indonesia yaitu, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS), Jurusan Teknik Kelautan.
Berawal dari Agustus
2013, aku pun bertekad untuk lepas seorang diri dari keluargaku menuju kerasnya
kehidupan di Surabaya. Dengan bantuan biaya transportasi dari guru-guru MAN 2
Kota Serang, menuju tempat perkuliahan di Surabaya. Alhamdulillah, itulah
pertama kalinya aku terbang bersama pesawat di atas awan-awan. Tak tahan
melihat Ibu menangis dan memelukku sangat erat seperti ada harapan besar pada
diriku. Insya Allah ini adalah jawaban Allah akan harapan besar Bapak dan Ibu
yang telah lama menunggu selama kurun waktu 15 tahun.
Bidikmisi adalah sebuah
anugerah yang Allah berikan kepadaku, yang telah memberikan kunci untuk membuka
kegelapan menuju cahaya kehidupan yang sangat keras ini. Bidikmisi bagaikan
malaikatku yang ketiga, yang membuatku bertekad kuat untuk berprestasi,
berkontribusi, berorganisasi dan berwirausaha. Seakan-akan kehadirannya tak
bisa dilupakan dan penuh tanggungjawab untuk menjaganya.
Alhamdulillah selama
kurun waktu tiga tahun kuliah di ITS, selama harapanku ditulis dalam selembar
kertas mimpi. Selama itu pula, aku mulai sedikit demi sedikit mencoret
harapan-harapanku karena ketercapaiannya. Kurang lebih sedikitnya 40 prestasi
yang telah kuraih selama menjadi mahasiswa yang sebagian besarnya prestasi
menulis, hingga mengantarkanku ke Negeri Jiran, Malaysia dan Singapura.
Prestasi saja tidaklah cukup, aku pun aktif berorganisasi, hingga aku pun
diamanahkan menjadi Ketua Departemen Inovasi Karya Himpunan Mahasiswa Teknik
Kelautan dan sebagai Wakil Ketua Trainer Keilmiahan ITS.
Hidupku tak pernah kenal
lelah, hingga waktu kosong pun dimanfaatkan untuk berwirausaha seperti,
mengajar, bekerja di Café, menjual minuman dan donat di kampus semata-mata
untuk ditabung bekal masa depan. Belajar dari usaha kecil-kecilan,
alhamdulillah saat ini aku telah mendirikan sebuah perusahaan berbadan usaha
dibidang penerbitan buku yaitu, CV. Sinar Gamedia (www.sinargamedia.org).
Belajar berwirausaha,
berorganisasi, dan berprestasi pun tidaklah cukup jika tidak ada manfaatnya
bagi masyarakat. Aku pun berusaha selalu siap diminta masyarakat untuk berbagi
ilmu, menjadi pembicara diberbagai kegiatan, alhamdulillah sudah puluhan kegiatan
aku dipercaya menjadi pembicara dan telah merubah mindset seseorang menjadi
lebih baik. Dan alhamdulillah dari perusahaan CV. SInar Gamedia, aku pun
mendirikan sebuah Komunitas dibidang kepenulisan yaitu Komunitas Sahabat
Redaksi yang telah merubah lebih dari 500 orang menjadi penulis pemula. Dan
sedikitnya 60 buku hasil keuntungan perusahaan CV. Sinar Gamedia disedakhkan
untuk anak-anak jalanan.
Perjuanganku
terus berlanjut menuju masa-masa yang dinanti harapan terbesar Bapak dan Ibuku
yaitu, Gelar Sarjana. Alhamdulillah saya pun lulus tepat waktu selama delapan
semester (4 tahun). Tepatnya bulan September saya resmi menjadi Alumni Teknik
Kelautan ITS. Hal yang menarik lagi, dalam wisuda tersebut saya terpilih
sebagai mahasiswa yang mempunyai kisah inspiratif, hingga diterbitkan dalam
Majalah ITS Online Edisi Wisuda 116. Aku dan seluruh keluargaku pun
berbendong-bondong datang ke Surabaya untuk menghadiri sebuah peristiwa yang
pertama kali dialami oleh keluarga bersarku.
Dari
segala mimpi-mimpiku yang satu persatu telah kuraih, hingga akupun dinobatkan
menjadi juara dua MAWAPRES ITS hingga terpilih sebagai Mahasiswa Bidikmisi
Berprestasi ITS. Sampai mendapatkan tiga penghargaan dari Beastudi Etos, Dompet
Dhuafa yaitu, Profil Pemimpin Terbaik, Profil Unggul Terbaik dan Top Five
Etoser 2013. Alhamdulillah wasyukurillah semua itu karena bantuan dan kekuatan
yang telah Allah berikan kepadaku.
Sahabat, aku bukanlah
mahasiswa yang luar biasa di mata anda, aku tidaklah lebih baik dari anda, aku
hanya berusaha menjadi mahasiswa pembeda, karena tujuan kuliahku adalah
belajar, bukan hanya belajar akademik, tapi belajar berprestasi, berwirausaha,
berorganisasi dan berkontribusi untuk masyarakat. Yakinlah dan percayalah bahwa
anda bisa lebih baik dari kehidupanku. Aku pun tidak akan
pernah berhenti sampai di sini, aku akan terus berjuang meraih
mimpi-mimpiku sampai bisa menerangi masyarakat kecil di pulau – pulau kecil di
Indonesia.
More Info:
WA: 087809117417
Instagram: @madi_arranim
Blog: www.madiarrnim.top

0 komentar:
Post a Comment