Cuk kicak kicuk kicak kicuk kereta berangkat, cuk kicak kicuk kicak
kicuk hatiku gembira. Mendengar sepotong syair lagu dangdut tersebut,
mengingatkan akan perjalanan saya dari stasiun Jakarta Kota sampai stasiun
Surabaya Gubeng. Perjalanan yang cukup melelahkan dari kota metropolitan
pertama sampai kota metropolitan kedua di Indonesia. Tapi, rasa lelah itu
sedikit hilang ketika teringat amanah dari kedua orang tua saya, yaitu menuntut
ilmu disalah satu Institut terbaik bangsa, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Ketika diperjalanan, saya melihat pemandangan alam di Indonesia itu
sangat indah, pegunungan yang menjulang tinggi, hamparan sawah yang hijau,
aliran sungai yang begitu jernih, rawa-rawa yang bersih, danau yang tenang seperti
penduduk di Negeri ini. Penduduk yang sangat sopan, ramah dan tamah, terlihat
saat di dalam kereta suasananya sangat islami dan bermasyarakat. Banyak
diantaranya wanita yang memakai kerudung, ketika makan sambil menawarkan orang
di sebelahnya, ketika jalan mengucapkan salam, suasananya sangat sejuk, tidak
ada orang yang merokok, banyak orang yang membaca Al-Qur’an, membaca buku,
membaca koran, bahkan ada seorang ibu yang sedang sholat sambil duduk. Setelah
orang itu selesai sholat, saya bertanya,”sholat apa yah bu?, padahal masih jam
sembilan pagi.” Ibu itu menjawab,”sholat dhuha nak.” Subhanallah, Negeriku
sangat kental dengan budaya Islam, budaya yang sudah lama diperjuangkan oleh
Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.
Sobat, ternyata saya baru saja terbangun, rupanya saya bermimpi,
saya takut ternyata di Negeri ini masih gelap. Sobat, mungkin selama ini saya
masih jauh untuk berharap, melupakan pesan-pesan dalam suratmu terdahulu.
Sobat, ternyata Indonesia sedang dilanda bencana, budaya banjir yang terus
mengguyur daratan, memakan banyak korban, hingga alampun menjadi sasarannya.
Sobat, saya tahu jalan ini sangat panjang dan melelahkan. Tapi, ini pasti jalan
kemenangan, di ujung jalan ini saya yakin ada cahaya yang terang benderang.
0 komentar:
Post a Comment