Tidak
pernah terpikirkan untuk bisa berkunjung ke negeri jiran, negeri yang tidak jauh
berbeda dengan Indonesia. Tapi, negeri ini bisa dibilang hampir jauh lebih maju
dari Indonesia, sebut saja Malaysia. Pada tanggal 25-28 Maret 2014 kami diberi
kesempatan oleh ITS untuk mengikuti kegiatan Offshore Technology Conference Asia di Kuala Lumpur Convention
Centre.
OTC adalah salah satu konferensi yang menyelenggarakan acara
terkemuka di dunia untuk pengembangan sumber daya lepas pantai di bidang
pengeboran, eksplorasi, produksi, dan perlindungan lingkungan laut yang
sebelumnya diadakan setiap tahun di Amerika Serikat namun pada tahun ini
digelar pertama kali di Asia tepatnya di Malaysia dan akan digelar kembali setiap
dua tahun sekali. Di dalam OTC sendiri peserta diharapkan untuk
memperoleh pemahaman teknis dan komprehensif tentang dasar-dasar pengembangan industri
teknologi lepas pantai serta dapat membangun jaringan di antara peserta Asia
Pasifik dan juga pihak dari berbagai industri melalui kegiatan yang mencakup conference, technicalsession, panel
session, dan juga exhibition.
Kegiatan
ini dirancang untuk memberikan gambaran mengenai industri teknologi lepas
pantai secara luas dan praktis sekaligus dapat mengembangkan softskill dari para peserta. Peserta
juga dapat membangun jaringan dengan mengunjungi berbagai stand dan berbagi pengetahuan serta ide antar peserta lain yang
bertujuan untuk menuju pembangunan Asia Pasifik khususnya di bidang ofshore technology yang lebih maju untuk
menghadapi era tantangan baru di tahun-tahun yang akan mendatang.
Perjalanan
yang penuh dengan kisah, berawal dari transit di bandara Changi International
Airport, Singapura. Suasana yang begitu berbeda, negeri yang ‘kecil’ tetapi mampu
menjadi salah satu negara maju. Perasaan yang luar biasa juga ketika berada di dalam
perjalanan ke kota untuk selama beberapa jam sebelum kembali ke bandara dengan
menaiki Mass RapidTrain (MRT) sambil melihat
tatanan kota yang begitu indah, rapi, dan bersih. Tidak kalah penting juga
bagaimana terlihat begitu arifnya masyarakat Singapura ketika kami mencoba
berinteraksi dengan mereka. Kesempatan ini sekaligus menjadi renungan,
inspirasi, dan motivasi bagi kami untuk berkontribusi lebih demi Indonesia yang
lebih maju.
Sesampainya
di Kuala Lumpur International Airport, Malaysia, kami langsung menuju ke Kuala
Lumpur Sentral (KL Sentral) yang merupakan pusat stasiun kereta api. Setelah
itu kami menuju ke Kuala Lumpur Convention Centre (KLCC) dengan menaiki Light
Rapid Transit (LRT) atau lebih dikenal KL Monorail. Sepanjang perjalanan menuju
ke lokasi, kami tidak henti-hentinya kembali merasa kagum bagaimana negeri ini
tidak kalah rapi dan bersihnya dengan Singapore dari segi tatanan kota dan pola
transportasinya. Sesampainya di gedung KLCC kami langsung melakukan registrasi
ulang dan tampak terlihat para peserta yang berstatus pelajar hingga eksekutif
turut hadir dari berbagai negara.
Ada
banyak wawasan baru yang kami peroleh ketika menghadiri berbagai sesi, semisal
pada saat kami mengikuti technicalsession
dalam beberapa hari dimana sesi tersebut dapat kami saksikan berbagai
ilmuwan khususnya dari lingkup Asia mempresentasikan hasil riset mereka
mengenai teknologi lepas pantai dan ini menunjukkan bahwa negara-negara
tetangga kita ternyata memiliki perhatian yang sangat besar terhadap maritimnya.
Selain itu yang tidak kalah menariknya adalah pada saat mengikuti panel session dimana saat itu ada
presentasi oleh berbagai ilmuwan dan eksekutif mengenai kondisi energi bumi di
masa depan. Salah satu poin yang kami dapatkan adalah bahwa era minyak akan
segara berakhir atau sering diistilahkan the
era of ‘easy oil’is over. bukan berarti bahwa minyak bumi akan sepenuhnya
habis, melainkan diprediksikan dari sekarang hingga tahun 2050 bahwa gas akan
menjadi energi utama dan Asia akan memasok 2/3 energi yang dibutuhkan bumi kita.
Lalu bagaimana dengan keadaan bumi setelah 2050? Kondisi bumi pasca tahun 2050
akan terus menggunakan hidrokarbon sebagai energi utama tetapi akan mulai fokus
mencari potensi energi terbarukan/non-terbarukan di daerah Antartika, saat ini
teknologinya masih belum siap dan akan terus melakukan penelitian untuk
eksplorasi di Antartika karena kondisi yang ekstrem. Pada intinya kita diharuskan
untuk menghemat energi atau konservasi energi sebaik mungkin mengingat bahwa
cara inilah yang paling ekonomis dalam menghadapi kekurangan energi dan
merupakan cara yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan meningkatkan
produksi energi.
Kesempatan
langka dan berharga yang kami peroleh ini tidak terlepas dari dukungan berbagai
pihak terutama Himatekla dan Beastudi Etos Surabaya yang selalu menginspirasi
untuk berprestasi serta birokrasi ITS yang telah melancarkan kami untuk bisa
berkontribusi. Tidak akan pernah terlupakan ucapan terima kasih kepada Allah
SWT dan Rasulullah SAW. serta kedua orang tua tercinta.
Oleh:
Madi “Penerima Manfaat Beastudi Etos Surabaya”
| Jamhari Hidayat Bin Mustofa
Mahasiswa Teknik Kelautan FTK ITS 2013

0 komentar:
Post a Comment