Dikisahkan
pada suatu hari, tinggalah sebuah keluarga yang harmonis namun serba
kekurangan. Keluarga yang tinggal di desa terpencil nan jauh dari kota, desa yang
terletak di hutan belantara kini hidup dalam tantangan yang menyakitkan.
Terlihat indah nan jauh di mata, ketika terlihat hutan ini dari beberapa
kilometer, begitu indahnya alam kehidupan ini penuh dengan hamparan hijau yang
menyejukan. Tapi, lihatlah dengan kasat mata, sekilas mendekati hutan ini
seperti tidak terurus, banyak pohon yang gundul akibat tangan jahil manusia.
Disisi lain, tak jauh dari area tersebut, terdapat rumah kumuh yang terbuat
dari kayu dan diatapi oleh jerami yang sudah tua. Rumah tersebut telah lama
dihuni oleh keluarga yang harmonis namun serba kekurangan.
Sering
disebut Geber salah seorang kepala keluarga yang tinggal di hutan belantara,
kesehariannya adalah mencangkul ladang supaya tergenangi oleh air. Geber
sehabis shalat subuh, ia pergi ke ladang untuk mengalirkan air ke tanaman
jagung yang baru saja ditanam. Sebelum Magrib tiba, ia pulang dengan
meninggalkan segenang air yang telah terkumpul seharian. Bukan saja untuk
mengaliri tanaman jagung, tapi sebanyak satu tangki air tersebut ia bawa untuk
dimasak. Begitulah keseharian seorang Geber.
Geber
sangat setia terhadap istrinya, sebut saja namanya Riri. Selama Riri ditinggal
oleh sang suami tercinta dari pagi hingga petang, Riri selalu setia menemani
kedua anaknya yang bernama Anton dan Antony. Mereka kesehariannya membuat alat
bor air yang ada di rumahnya. Alat bor tersebut sangatlah sederhana walaupun
hidup di era modern seperti ini. Mungkin alat tersebut tak sehebat turbin, alat
tersebut hanyalah terbuat dari kayu yang di sayat menggunakan pisau.
Sederhananya alat tersebut, tapi dapat menghasilkan pancaran air yang sangat
berguna bagi mereka. Sayangnya alat tersebut hanya bertahan selama 12 jam saja,
jadi tak heran jika Riri bersama kedua anaknya menghabiskan waktu untuk membuat
alat bor demi mendapatkan setetes air.
Kehidupan
mereka sungguh sederhana apa adanya, segala sesuatunya bergantung pada alam,
makan, minum, bahkan pakaian pun mereka dapat dari alam. Sederhananya mereka
begitu kental hingga menumbuhkan keluarga yang harmonis yang penuh dengan
kerjasama dan saling tolong-menolong.
Seiring dengan berjalannya waktu,
langit-langit yang terus menemani hidup dengan penuh kecerahan, hingga cerahnya
menyinari bumi ini semakin panas, bintang dan bulan yang selalu menghibur
dengan penuh senyum manisnya. Seperti biasanya setiap habis shalat Subuh, Geber
berangkat ke ladang untuk mengaliri air ke tanaman jagung, Sayangnya pagi itu tidak
menguntungkan bagi Geber. Tidak seperti biasanya air tidak begitu mengalir
deras, mungkin akibat dari musim kemarau. Ketika Geber memeriksa tanaman
jagungnya, ia melihat banyak daun-daun yang keriput dan berlubang hingga mati.
Selain itu, terlihat tanah-tanah yang kering tak bernyawa tanpa humus, serta
pohon-pohon yang berguguran menggugurkan nuansa fatamorgana.
Riri
dan kedua anaknya sedang menunggu kedatangan sang suami, berharap kedatangannya
membuahkan hasil untuk makan dan minum di hari ini. Begitu juga yang diharapkan
oleh Geber supaya pulang nanti sang istri sudah mempersiapkan makan dan minum
untuknya. Mereka saling menunggu satu sama lainnya untuk memenuhi kebutuhan
hidup, begitu harmonis hubungan keluarga sederhana serba kekurangan ini. Tetapi
kekurangan mereka tidak begitu ditunjukan dengan keluhan-keluhan yang tak
berarti, justru mereka tambah semangat untuk memperjuangkan hidup, apapun itu,
mereka akan tetap melakukan demi memperoleh setetes air sebagai kesuburan hidup
keluarga yang harmonis.
Tahun
ini mungkin adalah tahun yang tidak menguntungkan bagi mereka, musim yang tidak
begitu mereka harapkan, datang-datang menghancurkan segala pengorbanan jiwa.
Bumi ini memang berputar mengelilingi matahari, kadang musim panas, kadang
musim dingin, begitupun kehidupan ini yang terus berputar mengelilingi nasib,
kadang baik dan kadang buruk, itu sudah kehendak Allah SWT. keterbatasan hidup
mereka semakin memuncak seiring dengan kemarau yang setia menemaninya.
Demi
setetes air untuk menyuburkan kehidupan, sang ayah, Geber pergi ke puncak
gunung untuk mencari sumber mata air. Sedangkan sang istri dan kedua anaknya
tak berdaya dalam keadaan lemas di rumahnya. Mengorbankan segala raga dan
jiwanya, sang ayah terus menaiki bukit hingga keringat sekujur tubuhnya ia tampung
dan kemudian ia minum untuk menambah stamina menuju sumber mata air.
Sesampainya di sumber mata air, Geber sangat bahagia, ia tak habis pikir
langsung saja mengambil air tersebut menggunakan tangki, tak ada waktu lama
bagi Geber, ia tidak mempedulikan dirinya sendiri, yang terpenting adalah
kehidupan sang istri dan sang anak yang sedang menunggu dalam keadaan tak berdaya
di rumah.
Geber
berharap istri dan kedua anaknya masih bertahan hidup, ia hanya kuat membawa
turun satu tangki air untuk istri dan anaknya. Ketika pertengahan jalan,
sekujur tubuh Geber terasa lemas karena kekurangan air ditambah teriknya
matahari yang terus menyinari bumi. Akhirnya Geber meminum seperempat bagian
air yang ada di dalam tangki tersebut untuk menambah stamina hingga sampai di
rumah. Sesampainya di rumah, Geber bersyukur bisa memberikan setetes air untuk
istri dan kedua anaknya dan bangga ketika melihat istri dan anaknya dalam
keadaan masih hidup. Setelah setetes air dari tangki tersebut diberikan ke
istri dan anaknya untuk menyuburkan kehidupannya, tak ada daya dan upaya, sang
ayah, Geber meninggal dunia.
Sahabatku
yang budiman, cerita tersebut sengaja saya buat untuk menekankan sekaligus
mengiatkan kita akan pentingnya setetes air untuk kehidupan ini. Walaupun air
terus mengalir tanpa hentinya, tapi coba kita lihat dan rasakan di daerah
terpencil nan jauh dari sumber air, mungkin di sana masih banyak orang yang
kekurangan air. Bisa jadi saat ini kita kelebihan air atau sudah tercukupi
dengan air, tapi ingat bumi ini pasti berputar, mengelilingi nasib kehidupan,
tidak selamanya air itu ada untuk kehidupan kita.
Sebagai
Etoser yang memegang amanah dari rakyat, maka marilah kita perbaiki diri,
renungkan diri kita bersama, saat menggunakan air di asrama, janganlah
menghabiskannya tanpa ada arti dan tujuan. Ingat saudaraku, air adalah salah
satu sumber kehidupan kita yang terus mengalir, mungkin saat ini kita bisa
memakai air untuk mandi, minum, nyuci, dll. Tapi coba kita berpikir ketika air
itu tidak mengalir di asrama tercinta ini. apa yang harus kita lakukan???....,
kembalikan pada pemikiran dan kesadaran kita bersama. Ayo saudaraku kita
bersama-sama menghemat air dan menggunakannya sesuai dengan kebutuhan kita.
Wow, keren 😄😄😄
ReplyDeleteCuma, di awal aku sempat mikir, mungkin amanahnya nanti ttg pengorbanan Ayah terhadap keluarga, ternyata ttg masalah kekeringan. nggak terduga. hehe