Mendengar enam kata yang diawali huruf B itu, sangatlah mudah untuk
diucapkan. Banten.. oh.. Banten... engkau adalah bagian dari Jawa Barat yang
diperjuangkan oleh Sultan Hasanudin kini telah menjadi profinsi di Indonesia.
Senang hati ini ketika engkau menjadi mandiri, tanpa diperbudak oleh atasan.
Kini engkau telah dipercaya oleh bangsa untuk menjadi profinsi yang kental
dengan budaya badui, indahnya alam dibawah kaki Krakatau, dan uniknya hamparan
ujung kulon yang terdapat Badak bercula satu. Tidak ada yang dapat memiliki
sepertimu, enkau adalah harapan Indonesia, Banten.
Tapi, kiniengkau dipimpin oleh pemimpin yang pecundang yang tak mampu
untuk mempertanggungjawabkan, ia hanya bisa menghancurkan engkau. Sedih dan
kecewa ketika mendengar kabar dari tayangan di Surabaya, pemimpin Banten “Ratu Atut Chosiyah”
didakwa korupsi. Malu dan sakit hati ini, ketika mengetahui kabar tersebut
menyebar luas diberbagai media massa. Ditamvahkan kabar dari teman di kampus
ITS, Surabaya menanyakan kepada saya, “Bagaimana kabar profinsi Banten?, apa
yang akan kamu lakukan dari kondisi Banten saat ini?”. Saya hanya bisa diam dan
menundukan kepala. Bingung untuk menjawab dan mengatasi masalah tersebut.
Berusaha untuk menghilangkan perasan bingung akan kondisi banten saat
ini. Tapi, susah untuk dihilangkan, masih ada rasa prihatin akan kondisi
Banten. Saya bawa liburan di Kota Bandung untuk sejenak menenangkan pikiran
ini. Dari Surabaya ke Bandung, saya nikmati perjalanan dengan melihat
pemandangan alam yang sangat indah, mungkin tidak dimiliki oleh Banten.
Seusainya liburan, saya lanjutkan perjalanan dari Bandung ke Banten.
Enam bulan lamanya saya tidak berjumpa dengan Banten, kini saya datanf
menemuimu untuk melihat kondisimu yang sesungguhnya. Sesampainya digerbang
utama profinsi Banten, saya melihat tulisan dari Ratu Atut Chosiyah, “indahnya
berbagi Pajak”. Ironis melihat tulisan tersebut, dirinya saja tidak mampu untuk
melakukannya. Dilanjutkan perjalan hingga di tol Ciujung-Banten, terlihat rumah
penduduk ditenggelami oleh air akibat akibat banjir, hanya atap riumah yang
tersisa. Melihat kondisi seperti itu saya meneteskan air mata, ditambahkan
warga setempat mengungsi dipinggiran tol Ciujung-Banten.
Sudah tidak kuat perjalanan ini melihat kondisi Banten yang semakin
suram, saya bawa tidur untuk menenangkan pikiran dan perasaan ini. Tidak terasa
Bis pun berhenti di gerbang tol Serang Timur bertepatan di Patung Pahlawan
Serang-Banten. Lagi-lagi melihat kondisi Banten yang kacau, calon pemuda
Banten, anak-anak SMP dan SMA tauran dan banyak diantaranya merokok dijalanan.
Astagfirullah, beginikah kondisi Banten saat ini, seharusnya malu dengan Sultan
Hasanudin yang sudah memperjuangkan Banten sejak dulu. Tapi, nyatanya saat ini
pemimpin Banten sangat Pecundang, munafik, dan tidak mampu menghadapi masalah
ini.
Dilanjutkan perjalanan menuju kampung halaman, di Kampung Warakas, Desa
Kebonratu, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang-Banten. Ternyata keindahan dan
kenyamanan itu terasa dikampung halaman ini, pemandangan yang begitu indah,
hamparan sawah yang hijau begitu luas, sejuknya udara dengan tertiupnya angin
sepoy-sepoy, ramahnya penduduk dengan ciri khas bahasa yang unik, ramainya
anak-anak yang bermain menggunakan budaya anak zaman dahulu, pemuda yang
pekerja keras untuk memberantas tangga kemiskinan, banyak bangunan santri yang
mendidik agama islam, banyak warga yang berbondong-bondong pergi ke Masjid
untuk beribadah, jika bertemu di jalan berjabat tangan sambil tersenyum,
semuanya terasa indah dan nyaman di Kampung halaman ini. Mungkin kondisi itu
tidak dimiliki oleh daerah lain, apakah anda tahu?, itu hanyalah mimpi-mimpi
yang ingin saya raih, hanya kondisi seperti itulah yang saya inginkan untuk
Indonesia dan kondisi seperti itulah harapan serta mimpi besar saya yang
sesungguhnya. Membangun Banten dan Indonesia yang lebih baik akan keramahan dan
keindahan alamnya.
Banten.. oh.. Banten.. walaupun engkau telah mandiri,tapi hambatan itu
masih selalu ada pada dirimu. Walupun hambatan itu menerpamu, tapi masih ada
yang menyejukanmu. Walaupun di luar engkau dipandang buruk, tapi masih ada yang
di dalam mampu untuk memperbaikinya, yaitu sosok Generasi Negarawan muda yang
berani membangun Banten untuk Indonesia tercinta. Ingat, bahwa Harapan itu
masih selalalu ada.
0 komentar:
Post a Comment